TEKNOLOGI INTELEGENT SENSOR
Intelligent Sensor : Terbukti Mampu Menghemat Energi
Inovasi teknologi terbaru dari LG terkait dengan penghematan energi adalah teknologi Intelligent Sensor yang terdapat dalam TV LCD. Cara kerja Intelligent Sensor adalah menyesuaikan secara otomatis baik brightness, contrast, sharpness, color tone, dan juga white balance, sesuai dengan kondisi ruangan pada saat itu. “Melalui proses Algoritma yang terdapat pada Intelligent Sensor, memungkinkan TV LCD dari LG untuk menganalisa kondisi cahaya suatu ruangan, seperti tingkat iluminasi dan warna lampu. Selanjutnya, kondisi ini akan diproses secara detail melalui 4096 langkah Algoritma sehingga TV LCD mampu menghasilkan kondisi gambar yang teroptimal bagi penonton”, ujar Eko Adhi Suyitno, Head of TV Product Marketing LGEIN menjelaskan mengenai Intelligent Sensor.
Konsumen juga tidak perlu kuatir ketika menyaksikan TV selama berjam-jam, sebab Intelligent Sensor mampu menciptakan gambar dalam kondisi teroptimal bagi mata penontonnya, karena itu dijamin mata penonton tidak mudah lelah. Teknik Intelligent Sensor juga mengurangi brightness (tingkat keterangan) yang tidak dibutuhkan pada TV LCD, sehingga dengan demikian tingkat konsumsi daya pada TV mampu dikurangi sampai dengan 60% ketika pencahayaan ruangan minimum.
Kemampuan Intelligent Sensor untuk menghemat konsumsi daya telah dibuktikan secara ilmiah oleh Universitas Indonesia melalui pengujian yang dilakukan Pusat Studi Teknologi dan Informasi Ketenagalistrikan – Departemen Teknik Elektro FTUI terhadap tipe TV LCD 42LG60FR dan 42LG53FR yang telah memiliki teknologi Intelligent Sensor di dalamnya. Untuk mengetahui bekerjanya Intelligent Sensor, maka TV LCD dikondisikan dalam berbagai tingkat pencahayaan ruangan, mulai dari tingkat pencahayaan 0 lux (sangat gelap) hingga 600 lux (sangat terang). Hasilnya, ketika pencahayaan ruangan minimum, justru energi yang dipakai oleh TV LCD ini makin kecil.
“Hasil pengujian yang kami lakukan menunjukkan bahwa Intelligent Sensor bekerja dengan baik. Hal ini terlihat dari nilai konsumsi energi yang mengikuti tingkat pencahayaan lingkungan. Ketika pencahayaan minimum, energi yang digunakan justru makin kecil. Kami belum pernah menemukan TV lain yang mampu bekerja sedemikian rupa. Ini merupakan inivasi yang luar biasa”, ujar Dr. Iwa Garniwa Mulyana K., Ketua Pusat Studi Teknologi dan Informasi Ketenagalistrikan – Departemen Teknik Elektro FTUI. Dampak lainnya bagi konsumen adalah mereka tidak perlu kuatir rekening listrik membengkak. “Biaya listrik rata-rata adalah Rp. 558,-/kWh. Kalau penggunaan energi pada TV LCD dikalkulasikan secara rupiah maka untuk TV LCD tipe 42LG60FR, dalam kondisi cahaya minimum biaya listrik yang dikeluarkan hanya Rp 39,79 untuk tiap jam. Ketika kondisi cahaya maksimum, maka konsumsi energi maksimum adalah sebesar Rp 97,72 per jam,” ujar Iwa lagi. Dengan demikian selisih antara kondisi minimum dan maksimum mencapai 60%.
Yang penting disini, bukan hanya sekedar seberapa besar nilai rupiah yang bisa dihemat oleh konsumen, tapi lebih pada bagaimana kita semua turut mengambil bagian untuk mengupayakan penghematan energi. LGEIN sebagai produsen memiliki komitmen untuk terus berinovasi dalam menciptakan produk-produk yang hemat energi sebagai bentuk tanggung jawabnya. Apabila produsen telah membuka jalan untuk penghematan energi, maka sekarang saatnya konsumen yang mengambil peran dengan cara memanfaatkan produk-produl yang hemat energi, sebagai bentuk tanggung jawab mereka terhadap krisis energi yang terjadi.
|